Selasa, 01 April 2008

Film FITNA


Sudah berbulan-bulan lamanya, wacana khalayak Belanda didominasi oleh diskusi sekitar film anti al Qur'an yang akan dirilis anggota parlemen Geert Wilders. Di luar negeri orang bertanya-tanya: apa gerangan yang terjadi di Belanda?

Dari mana Geert Wilders ini muncul dan bagaimana tanggapan orang Belanda? Dan kalau pemerintah Belanda takut terhadap dampak film ini, lalu mengapa tidak dilarang saja. Apakah mereka mendukung film ini?

Radio Nederland Wereldomroep memproduksi film pendek yang berupaya memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas. Film yang berjudul "Tentang Fitna, Belanda dan Wilders" (bisa diklik pada situs www.rnw.nl/aboutfitna) menyorot lebih dalam pelbagai aspek masyarakat Belanda. Misalnya kebebasan berpendapat, yang acap kali membingungkan orang di luar Belanda. Film ini juga menyorot posisi Geert Wilders dalam masyarakat Belanda.

Fitna
Meski belum ada orang yang nonton film Fitna, namun Geert Wilders sudah menyatakan bahwa filmnya akan membuktikan al Qur'an adalah buku fasis. Dalam wawancara dengan koran pagi Belanda, de Volkskrant, ia menyatakan yang menjadi masalah adalah Islam, bukan orang Muslim. Namun ia juga memperingatkan dunia barat bahwa Fitna bertujuan menyadarkan dunia barat yang menurutnya sedang menyerahkan kebebasannya kepada Islam tanpa membela diri.

Lalu apa gerangan yang terjadi dengan Wilders, mengapa ia begitu marah terhadap Islam? Acap kali hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan historis. Misalnya kedatangan warga Muslim asal Maroko dan Turki mengubah masyarakat Belanda menjadi masyarakat multikultural. Perubahan yang bisa menjengkelkan orang Belanda juga yang dikenal sebagai toleran.

Asimilasi
Terutama sejak kejadian 11 September 2001, integrasi minoritas Muslim menjadi topik emosional di Belanda. Geert Wilders dengan partainya, Partij voor de Vrijheid (Partai untuk Kebebasan) menjadi juru bicara mereka yang paling ekstrim dalam masalah integrasi ini. Mereka beranggapan, budaya Islam menjurus pada kekerasan dan bertentangan dengan demokrasi. Wilders berpendapat, migrasi Muslim harus disetop. Menurutnya, Muslim yang sudah berada di Belanda harus meninggalkan sebagian budaya mereka dan berasimilasi dengan budaya Belanda.

Geert Wilders menarik pengikut yang jumlahnya kecil saja, namun terus bertambah. Pada pemilu 2006 ia mendapat 6% suara, dan dengan hasil ini menduduki sembilan dari ke 150 kursi de Tweede Kamer, parlemen Belanda. Sebenarnya bukan jumlah ini yang menarik perhatian umum, namun penampilannya yang provokatif yang terus-terusan masuk media massa Belanda.

Kebebasan pendapat
Jelas pemerintah Belanda mengkhawatirkan dampak filmnya Geert Wilders. Pemerintah masih ingat apa yang terjadi dalam dunia Islam setelah publikasi karikatur anti Muslim di koran Denmark. Menteri luar negeri Belanda, Maxime Verhagen, berupaya menjelaskan bahwa isi film Geert Wilders, bukan pendapat pemerintah, namun Wilders berhak membikin film ini berdasarkan kebebasan berpendapat. Tentu saja ini akan berubah kalau hakim memutuskan sesuatu yang lain.

Orang Belanda bangga dengan kebebasan demokratis mereka, mereka menyelesaikan perselisihan lewat argumentasi dan tidak saling pukul. Sikap bangga ini bisa diungkapkan dalam satu kutipan filsuf aliran pencerahan Prancis Voltaire: "Apa yang Anda katakan saya tolak, namun hak Anda untuk mengutarakannya akan saya bela sampai mati."

Wlilders berhasil memicu diskusi di Belanda, tidak ada hari tanpa berita tentang anggota parlemen ini atau dari mereka yang mengomentari pendapatnya. Banyak orang Belanda menentang pendapatnya. Mereka berpendapat Geert Wilders memojokkan orang Muslim dan dengan demikian mempersulit integrasi mereka. Namun ada juga yang tidak setuju dengan Wilders, tapi toh menganggap ia menyumbang banyak dalam diskusi antara orang Belanda dengan pendatang Muslim, dan dengan demikian bisa menyelesaikan perbedaan pendapat mereka.

Film khayalan
Sampai sekarang warga Muslim belum banyak yang ikut diskusi ini. Namun film yang masih harus ditayangkan karya Wilders ini mendorong mereka untuk mencari jawaban yang bisa dilontarkan kalau film ini benar-benar keluar. Organisasi Maroko di Belanda sudah mengumumkan akan membuka pintu mesjid-mesjid Maroko pada hari film ini ditayangkan. Pemimpin mereka Mohammad Rabbae menyatakan: "Kalau film itu keluar kami harus tenang, kalau kami marah atau sampai menggunakan kekerasan maka kami melakukan persis apa yang dituduhkan tuan Wilders pada kami".

5.0
Agregar a facebook

Artikel Terkait:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Recent Comment

Pengikut